Friday, 12 May 2017

Motor Touring Gunungwuled - Gua Lawa 2017 (Coming Soon)

www.jemarigunungwuled.or.id
Add caption

Monday, 27 July 2015

Bupati Purbalingga Resmikan Portal Wisata Gunungwuled

SIARAN PERS DAPAT SEGERA DITERBITKAN


Bupati Purbalingga Resmikan Portal Wisata Gunungwuled




PURBALINGGA. Bupati Purbalingga Sukento Ridho Marhaendrianto secara resmi meluncurkan website organisasi Jejaring Masyarakat Intra Gunungwuled bernama www.jemarigunungwuled.or.id, Senin (20/7). Portal online ini dibangun dengan tujuan utama untuk mempromosikan wisata alam di Desa Gunungwuled.

Acara peluncuran digelar di Masjid Zadid Taqwa Desa Gunungwuled. Peresmian ini juga disaksikan oleh Camat Rembang Suwarto dan Kepala Desa Gunungwuled Suwarno.

Bupati Purbalingga mengapresiasi keberadaan pemuda yang ingin mengembangkan desanya menjadi daerah wisata. Beberapa potensi wisata yang bisa dikembangkan di Gunungwuled di antaranya adalah air terjun atau Curug Bawahan, Curug Kalipete, Sumber Air Panas Kali Anget, Petilasan Si Onje, Puncak Gunung Pucung dan Watu Geong. "Ini adalah potensi desa yang harus dikembangkan menjadi obyek wisata," ungkap Sukento.

Untuk mengembangkan daerah wisata, menurut Sukento, yang pertama kali harus diperhatikan adalah akses transportasi menuju lokasi obyek wisata. Saat ini beberapa lokasi wisata di Gunungwuled cukup mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor.

Salah satunya adalah Curug Bawahan yang sudah bisa dijangkau hingga hingga ke lokasi air terjun dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Selain itu, akses transportasi menuju puncak Gunung Pucung dan Watu Geong sudah menjangkau hingga Dusun Sidamukti.

Selanjutnya perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Sedangkan lokasi sumber air panas Kali Anget masih sulit dijangkau dan tersembunyi di tengah hutan pinus Dusun Pentul Gunung.  

Selain menawarkan keindahan alam sebagai obyek wisata utama, ia meminta warga masyarakat desa sepanjang perjalanan menuju obyek wisata menghiasi halaman rumahnya dengan taman dan bunga agar terlihat lebih indah.

Lalu untuk promosi wisata, Sukento menyarankan agar selain melalui website, promosi juga gencar dilakukan lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, BBM, Line dan lain-lain. "Pasang foto gadis cantik dan pemuda yang ganteng saat berada di lokasi wisata, biar menarik," ujar Sukento.

Jika obyek wisata dan masyarakat sekitar sudah siap menyambut wisatawan, maka Desa Gunungwuled selanjutnya bisa ditetapkan sebagai sebuah desa wisata.  

Ketua Jejaring Masyarakat Intra Gunungwuled (Jemari Gunungwuled), Zulfikar Abdullah Iman Haqiqi mengatakan Jemari Gunungwuled aktif mempromosikan potensi wisata Gunungwuled melalui internet dan media sosial. "Wisatawan yang datang ke Gunungwuled, terutama Curug Bawahan, Gunung Pucung dan Watu Geong terus bertambah. Sayangnya pengelolaan obyek wisata belum maksimal," kata Zulfikar.

Ia berharap dengan adanya dukungan dari Bupati Purbalingga, Desa Gunungwuled bisa mendapatkan pembinaan dan dukungan dana agar bisa berkembang menjadi desa wisata. 

Jejaring Masyarakat Intra Gunungwuled atau Jemari Gunungwuled merupakan sebuah organisasi kepemudaan yang bermarkas di Desa Gunungwuled Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Organisasi ini benar-benar murni buah kreatifitas pemuda, bukan organisasi bentukan pemerintah atau partai politik tertentu. Maka keunikan organisasi ini tidak akan bisa ditemui di organisasi pemuda lainnya terutama yang berbasis di pedesaan.

Organisasi berlambang lentik jemari ini resmi berdiri pada 11 Januari 2011. Setelah media sosial berkembang pesat, pembangunan organisasi banyak mengandalkan grup Facebook. Saat ini anggota grup Facebook Jemari Gunungwuled berjumlah lebih dari 600 orang. 
 
Sebagai organisasi pemuda yang independen dan bebas dari kepentingan politik, Jemari Gunungwuled bergerak dengan fokus kegiatan di bidang sosial kemasyarakatan. Rangkaian kegiatan organisasi yang pernah digelar di antaranya adalah pemutaran film Purbalingga, gelar seni dan budaya Gunungwuled, parade band se-Kecamatan Rembang, lomba fashion show anak usia dini, buka bersama dan santunan anak yatim piatu, pengajian akbar, pengembangan tempat wisata Gunung Pucung, arisan dan lain-lain. 

Contact person: Sofyan Nur Hidayat 081326403362

Tuesday, 21 July 2015

Menjelajahi Eksotisme Gunungwuled

Nama Gunungwuled nyaris tak pernah terdengar dalam riuhnya pemberitaan media di Tanah Air. Di dunia pariwisata, tempat yang satu ini juga tak pernah disebut sebagai sebuah destinasi. Tapi jangan langsung memandang remeh. Simak dulu ulasan tempat-tempat eksotis di Desa Gunungwuled Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga berikut ini.

Pertama, sunrise spot di puncak Gunung Pucung. Akhir-akhir ini foto selfie di atas puncak gunung banyak bertebaran di media sosial. Ya, foto selfie di puncak gunung kini telah menjadi tren anak muda.

Anda yang ingin mengikuti tren tapi tak jago panjat gunung super tinggi tak perlu risau. Puncak Gunung Pucung dengan keindahan alamnya bisa dijangkau hanya dalam waktu sekitar 35 menit dari Dusun Sidamukti, Gunungwuled yang merupakan lokasi terdekat yang bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor.

Dari atas puncak, Anda bisa menikmati hamparan keindahan pegunungan dan alam sekitar. Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, Anda bisa datang pagi hari untuk menikmati panorama alam matahari terbit (sunrise).

Karena keindahan alamnya, puncak Gunung Pucung sudah lama menjadi spot untuk berkemah (camping) sejumlah sekolah di Purbalingga dan Banjarnegara. Setidaknya di puncak gunung ini, Anda bisa mendirikan minimal empat tenda.

Kedua, Watu Geong. Jalur pendakian Watu Geong sama dengan puncak Gunung Pucung. Jadi disarankan Anda mendaki dari Dusun Sidamukti naik ke Gunung Pucung, lalu berjalan lagi ke Gunung Korakan yang berada di sebelahnya. Tak jauh kok, paling lama perjalanannya sekitar 30 menit melewati jalan setapak yang masih penuh semak belukar.

Magnet utama tempat ini adalah keberadaan sebuah batu seukuran rumah yang seolah menggantung (geong-geong, dalam bahasa Jawa Banyumas) di salah satu puncak Gunung Korakan, sebelah selatan Desa Gunungwuled. Tentu saja, Anda bisa menikmati keindahan alam raya yang terhampar dari sini.
Dahulu kala, batu raksasa ini kerap dijadikan sebagai tempat bertapa atau bersemedi untuk mencari wangsit. Tapi kini Watu Geong menjadi salah satu destinasi yang menyedot kunjungan banyak orang yang ingin berpetualangan di alam bebas.

Ketiga, rangkaian Air Terjun Bawahan dan Kalipete. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Curug Bawahan (Air Terjun Bawahan) karena lokasinya yang berada di Dusun Bawahan Desa Gunungwuled. Sebagian lagi menyebutnya dengan nama Curug Panyatan karena air pegunungan yang mengalir pada air terjun ini berasal dari Sungai Panyatan.

Di Air Terjun Bawahan, Anda disuguhi pemandangan air terjun yang aduhai. Kesejukan  udara hutan pinus menambah sejuk suasana pegunungan. Cocok untuk melepas lelah dan penat dari bisingnya kehidupan perkotaan.

Dari bawah air terjun, Anda bisa melakukan pendakian melewati hutan pinus menuju bagian puncak Curug Bawahan. Di sana pemandangannya juga tidak kalah mengasyikan. Di sini suasananya benar-benar hening karena jauh dari pemungkiman penduduk.

Setelah puas menikmati keindahan Curug Bawahan, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Curug Kalipete yang merupakan satu rangkaian air terjun sepanjang Kali Panyatan. Lokasi tepatnya berada di Dusun Karang Anyar, Gunungwuled. Sepanjang perjalanan dari Curug Bawahan - Curug Kalipete, Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan beberapa air terjun kecil di dinding-dinding tebing.

Keempat, Sumber Air Panas Kali Anget. Tak banyak yang tahu bahwa Gunungwuled memiliki tempat pemandian air panas. Tempat ini benar-benar masih perawan dan tersembunyi. Ya, lokasinya berada di Dusun Pentul Gunung.

Sepeda motor hanya bisa menjangkau sampai Pentul Gunung. Perjalanan selanjutnya harus dilakukan dengan jalan kaki melewati hutan pinus sekitar 30-40 menit. Untuk mencapai lokasi, Anda perlu bantuan pemandu warga sekitar karena lokasinya benar-benar tersembunyi.

Sumber air panas di Gunungwuled berasal dari kandungan belerang yang keluar dari celah-celah dinding batu di pinggir sungai. Hal itu bisa tercium dari aroma yang keluar serta warna cokelat pada air dan batu di sekitarnya. Tidak ada fasilitas apa-apa di obyek ini. Hanya ada pancuran bambu untuk mandi.

Belerang sendiri bisa menjadi obat penyakit gatal-gatal dan berbagai penyakit kulit lainnya. Wajarlah jika banyak orang ke tempat itu hanya sekedar untuk mandi. Tempat ini benar-benar sebuah hutan nan sunyi. Yang akan terdengar hanya suara gemericik air dan burung-burung hutan.

Kelima, Si Onje. Sebuah petilasan di Gunungwuled bernama Si Onje banyak dikunjungi orang dari luar daerah pada hari-hari tertentu. Tapi kunjungan orang ke Si Onje akan ditutup selama bulan puasa. Nah sebelum masuk bulan Ramadhan, ada sebuah acara yang digelar disebut Tutupan.

Si Onje sendiri merupakan sebuah hutan kecil yang asri. Di dalamnya terdapat makam kuno yang diyakini warga sekitar sebagai makam Syeh Rubiah Kembang (atau Rubiah Sekar). Ada beberapa pondok peristirahatan bagi pengunjung yang datang.

Tradisi Tutupan Si Onje sudah berlangsung selama ratusan tahun. Saat acara tutupan, ratusan orang dari desa-desa di sekitarnya berdatangan ke Si Onje. Mereka datang dengan membawa berbagai makanan seperti nasi tumpeng, lauk pauk dan sayuran. Di sana juga akan dipotong seekor kambing jantan yang langsung dimasak di pinggir sungai.

Seluruh makanan yang dibawa warga dan daging kambing yang sudah masak ditempatkan pada daun pisang sepanjang lorong petilasan. Setelah semuanya siap, tibalah acara puncak. Seremoni budaya Gunungwuled itu berupa pembacaan dzikir dan doa yang dipimpin oleh juru kunci Si Onje bernama Eyang Samsudin. Selanjutnya acara kenduri atau makan bersama dimulai. Setelah selesai orang-orang biasanya berebut sisa makanan yang ada untuk dibawa pulang ke rumah karena dipercaya bisa membawa berkah.

Oya, untuk mencapai desa Gunungwuled Anda bisa menggunakan mikrobus dari terminal bus Purbalingga menuju Desa Losari, Rembang dengan lama perjalanan sekitar 45 menit. Selanjutnya dari Desa Losari, terdapat kendaraan bak terbuka yang mengangkut penumpang ke Gunungwuled.
Tapi karena sepinya penumpang, angkutan publik ini sudah jarang beroperasi kecuali pada hari pasaran Manis dan Pon.  Jika tidak, ojek menjadi alternatif transportasi satu-satunya dengan lama perjalanan sekitar 15 menit.

Cukup menarik kan potensi destinasi wisata di Gunungwuled?
Happy Travelling

Penulis: S.N Hidayat

DISCLAIMER: Semua tujuan wisata di Gunungwuled masih dalam tahap pengembangan jadi belum tersedia infrastruktur dan fasilitas yang memadai sebagai sebuah obyek wisata pada umumnya. Potensi wisata ini masih dalam bentuk aslinya di alam bebas tanpa polesan. Jadi bukan tidak mungkin sejumlah kendala akan dihadapi orang yang berkunjung ke obyek wisata di Gunungwuled. Sebagai sebuah destinasi, Gunungwuled hanya cocok untuk orang yang suka berpetualang.

Wednesday, 8 July 2015

Gelora Semangat Pemuda di Ujung Purbalingga

www.jemarigunungwuled.or.id

Orang-orang yang berjiwa muda dan peduli sosial selalu terpanggil untuk membangun bangsanya. Mereka yang tergabung dalam sebuah organisasi pemuda di Purbalingga ini adalah sebagian di antaranya. Orang-orang ini terpanggil untuk berjuang di tengah masyarakat.

Jejaring Masyarakat Intra Gunungwuled atau Jemari Gunungwuled merupakan sebuah organisasi kepemudaan yang bermarkas di Desa Gunungwuled Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Organisasi ini benar-benar murni buah kreatifitas pemuda, bukan organisasi bentukan pemerintah atau partai politik tertentu. Maka keunikan organisasi ini tidak akan bisa ditemui di organisasi pemuda lainnya terutama yang berbasis di pedesaan.

www.jemarigunungwuled.or.id
Organisasi berlambang lentik jemari ini resmi berdiri pada 11 Januari 2011. Kendati begitu, embrio organisasi sudah ada sejak lama melalui berbagai kegiatan komunitas. Saat ini, komunikasi organisasi banyak mengandalkan grup Facebook di sini dengan jumlah anggota  lebih dari 600 orang.  
  
Sebagai organisasi pemuda yang independen dan bebas dari kepentingan politik, Jemari Gunungwuled bergerak dengan fokus kegiatan di bidang sosial kemasyarakatan. Deretan kegiatan organisasi yang pernah digelar di antaranya adalah pemutaran film Purbalingga, gelar seni dan budaya Gunungwuled, parade band se-Kecamatan Rembang, lomba fashion show anak usia dini, buka bersama dan santunan anak yatim piatu, pengajian akbar, pengembangan tempat wisata Gunung Pucung, arisan dan lain-lain. Lihat video kegiatan di Channel YouTube Jemari Gunungwuled di sini.

www.jemarigunungwuled.or.idKeanggotaan organisasi ini bersifat terbuka. Jemari Gunungwuled juga tidak bersifat elitis tapi menjangkau semua lapisan masyarakat. Para anggota berasal dari usia remaja hingga orang tua. Namun mayoritas anggota adalah usia muda yang penuh energi dan semangat untuk melakukan sebuah perubahan.

Sumbangsih yang diberikan para anggota bisa optimal karena latar belakang profesi yang berbeda-beda di antaranya adalah jurnalis, kontraktor, aktifis mahasiswa, aktifis pesantren, pelajar SMA, dokter, perawat, pelukis, pekerja pabrik serta mayoritas pekerja di sektor non formal. Perlu dicatat, karena ini merupakan organisasi pemuda, mereka rata-rata masih mengawali profesi yang digelutinya. Yang pasti, gelora semangat mereka takan pernah mati, antara perjuangan menggapai puncak karir pribadi dan membangun organisasi sosial kemasyarakatan yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas.  Susunan pengurus Jemari Gunungwuled.

www.jemarigunungwuled.or.idKarena disatukan oleh wilayah geografis, seluruh anggota organisasi ini berasal dari Desa Gunungwuled baik yang tinggal di desa tersebut maupun yang tengah merantau atau sudah menjadi penduduk daerah lain. Maka sebuah hal yang wajar, jika organisasi ini tidak hanya menggelar kegiatannya di Desa Gunungwuled tapi juga di daerah perantauan terutama di Ibukota Negara Indonesia, Jakarta.

www.jemarigunungwuled.or.idDi Jakarta, mereka menyebut dirinya sebagai Jemari Gunungwuled Batavia (JGB) yang berdiri sejak 12 Mei 2013 di Monumen Nasional (Monas). Pada saat pendirian JGB, para pemuda yang berkumpul di Monas berjumlah sekitar 50 orang, angka yang cukup besar mengingat kendala yang dihadapi untuk mengumpulkan warga di perantauan tidaklah mudah. Selanjutnya para pemuda dari Desa Gunungwuled yang bekerja di kota ini rutin berkumpul di Monas tepatnya di taman belakang lapangan futsal.

Pertemuan JGB digelar setiap bulan yakni pada hari minggu di pekan pertama. Selain membahas kegiatan organisasi, para anggota juga mengadakan arisan. Dana kas yang dibayarkan sebagian dipergunakan untuk membiayai kegiatan organisasi. Sebagian dana kas juga dipergunakan sebagai dana sosial, jika ada anggota yang tengah terkena musibah, keluarganya sakit atau tengah menghelat acara hajatan.

www.jemarigunungwuled.or.idSejarah organisasi terus bergulir. Pada tanggal 3 Mei 2015, Paguyuban Pargowo Desa Gunungwuled secara resmi melakukan penggabungan organisasi atau merger dengan Jemari Gunungwuled. Acara merger dua organisasi diresmikan di Kota Tua Batavia sekaligus dalam rangka perayaan ulang tahun JGB yang kedua.

www.jemarigunungwuled.or.id
Paguyuban Pargowo dan Jemari Gunungwuled yang memiliki visi yang sama ini melebur menjadi satu organisasi bernama Jemari Gunungwuled. Perlu diketahui, anggota Jemari Gunungwuled sebagian besar berusia muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sedangkan Paguyuban Pargowo beranggotakan warga Gunungwuled yang merantau di Jakarta dan berusia lebih senior. Kombinasi pemuda masa kini dan pemuda masa lalu ini menjadikan organisasi semakin kuat.


Roda organisasi terus berputar. Selama Gunung Pucung dan Gunung Korakan masih tegak berdiri di sebelah selatan Desa Gunungwuled, semangat Jemari Gunungwuled takan pernah runtuh. Selama Kali Gintung masih mengalirkan air, tekad kami pun takan pernah surut. Organisasi ini selamanya tetap akan menjadi wahana berbagi, berekspresi dan berkarya.

Penulis: The Founder/Community Organizer of Jemari Gunungwuled,  S.N. Hidayat

*****
JEMARI GUNUNGWULED
 www.jemarigunungwuled.or.id
​VISI: Generasi muda Gunungwuled yang berwawasan luas, kreatif, mandiri dan peduli dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

MISI:
1. Menjalin silaturahmi dan kebersamaan generasi muda Gunungwuled
2. Meningkatkan kreatifitas generasi muda Gunungwuled
3. Melibatkan generasi muda dalam kegiatan kemasyarakatan

www.jemarigunungwuled.or.id



Tuesday, 23 June 2015

Ini Lho! Sekolah Zaman Hindia Belanda di Purbalingga

Di zaman penjajahan Belanda, sekolah modern sudah berdiri di Purbalingga. Kendati begitu, lembaga pendidikan ini masih elitis dan hanya menerima murid keturunan Belanda dan anak para bangsawan Jawa. Sedangkan rakyat jelata dibiarkan bodoh dan tak terdidik. Maklum, Belanda tak ingin pribumi menjadi cerdas dan memberontak demi melanggengkan kekuasaan kolonial.

Tak jelas, kapan sekolah modern berdiri pertama kali di Purbalingga. Penelusuran yang dilakukan oleh Jemari Gunungwuled juga belum menemukan titik terang. Untuk membuka tabir sejarah sekolah modern di Purbalingga, kami hanya mengandalkan dokumen dari Lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia atau Koninklijk Institute voor de Taal-, Land- en Vokenkunde (KITLV) yang berpusat di Leiden Belanda.

Dua buah potret tua dari perpustakaan yang menyimpan dokumen-dokumen Hindia Belanda ini diberi keterangan Poerbolinggo. Perlu diketahui sejumlah dokumen foto KITLV menyebut nama Purbalingga dengan Poerbolinggo in Midden-Java. Label pada dua potret tua itu menyebut angka tahun 1909 dan 1932.

Sejarah lahirnya sekolah modern di Purbalingga tak lepas dari Politik Etis. Politik Balas Budi pada jaman Hindia Belanda ini menjadi awal lahirnya sekolah-sekolah modern di Indonesia. Politik etis merupakan respons Ratu Wilhelmina atas kritik terhadap kebijakan tanam paksa di Hindia Belanda.

Ratu Wilhelmina yang bernama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau memimpin Kerajaan Belanda sejak 1890 - 1948. Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang belum lama naik tahta menegaskan, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda.

Sang Ratu mewujudkan gagasannya itu dalam program Trias Politika yang meliputi:
1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian
2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi
3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan

Kebijakan Ratu Wilhelmina ini dipengaruhi oleh kaum Etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) yang membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang.

Berikut ini potret tua yang menggambarkan sekolah modern di jaman Hindia Belanda:

Potret ini menggambarkan keceriaan seorang guru perempuan Eropa dengan para muridnya di Purbalingga. Dokumen KITLV ini berjudul Vermoedelijk een Europese lerares met haar leerlingen te Poerbolinggo. Juru foto mengabadikan momentum ini pada tahun 1932.

www.jemarigunungwuled.or.id

Potret anak kecil Eropa. Keterangan foto menyebutkan anak laki-laki di sebelah kiri bernama Jitze dan sebelah kanan bernama Leny (satu anak lainnya tidak disebut), dengan babu mereka di sebuah taman di Wonosobo. Kendati judul foto ada keterangan Wonosobo, tapi di keterangan foto lainnya menyebut sebuah taman di Purbalingga. Juru foto membidik gambar menakjubkan ini pada tahun 1909. Dokumen KITLV berjudul: Euopese kinderen, de jongen links genaamd Jitze en het meisje geheel rechts Leny, met hun baboe in een park te Wonosobo.

www.jemarigunungwuled.or.id

Penulis: S.N. Hidayat

 
Desain diolah oleh Sofyan NH | Bloggerized by Ideaku Online | Gunungwuled