Wednesday, 15 December 2010

Hindari Tiga Pantangan Saat Berada di Gunungwuled

Sejumlah pantangan yang ada di Desa Gunungwuled - Purbalingga
Indah memang, tapi pikir ulang kalau menginginkan rumah ijuk di Gunung Wuled.


Tulisan ini bukan bertujuan untuk memengaruhi. Mau percaya atau tidak, semua tergantung dari sudut pandang mana kamu menilainya. Yang jelas sejumlah pantangan atau larangan telah diceritakan secara turun-temurun oleh para orang tua dan kakek-nenek kita di Desa Gunung Wuled.

Sebagian pantangan atau larangan itu mungkin sudah usang jika dipandang dari kaca mata jaman sekarang yang sudah sedemikian modern. Tapi sebenarnya, di balik setiap pantangan selalu terselip keramahan budaya lokal Gunung Wuled. Terlebih, di atas segalanya, ada nilai-nilai luhur yang  masih terpendam dan belum sepenuhnya bisa dipahami oleh generasi sekarang.

Berikut ini tiga pantangan atau larangan yang ada di desa Gunung Wuled. Sebagian besar  berkaitan dengan Kiai Wuled dan tokoh lain seperti Syeh Rubiyah Kembang.  

1. Larangan Nanggap Wayang

"Jangan berani mbeber wayang di Desa Gunung Wuled, atau bencana akan datang." Begitu kira-kira bunyi larangan yang kerap diceritakan turun-temurun para orang tua kepada anaknya di Desa Gunung Wuled. Tak ada aturan tertulis memang, tapi siapa yang berani membantah? Dan sepanjang sejarah yang kuingat, belum pernah tercatat ada pertunjukan wayang kulit di Desa Gunung Wuled. Semua patuh.

Ada sebuah cerita. Pertunjukan wayang konon pernah digelar, tapi tiba-tiba terjadi hujan badai dan panggung pertunjukan roboh. Sedangkan Ki Dalang mati tertimpa kayu penglari. Tapi entahlah, tidak ada yang bisa membuktikan kebenaran cerita itu.

Masih ingat bencana banjir disertai longsor yang terjadi di Dusun Si Pete, Gunung Wuled  pada awal Januari 2010? Bencana yang menghancurkan sedikitnya 4 rumah warga ini ramai diberitakan berbagai stasiun televisi, media cetak dan juga elektronik. Salah satu media cetak cukup jeli mengulas masalah ini. Media itu menulis  hasil wawancara dengan warga yang mengaitkan bencana dengan larangan nanggap wayang di Gunung Wuled.

Tidak ada pagelaran wayang sebenarnya, tapi malam hari saat bencana terjadi, ada acara syukuran bumi dengan hiburan kesenian lengger di dusun Pentul - Gunungwuled. Tapi ada kesalahan lagu atau kidung yang dilantunkan oleh sinden.  Kidung  yang dinyanyikan ternyata kidung untuk pagelaran wayang. Konon lantaran salah ngidung itu, hujan badai datang dan mengakibatkan banjir bandang. Entahlah...

2. Rumah atap ijuk

Ada yang belum pernah melihat rumah beratap ijuk? Jika pun ada, tentu tidak mengherankan. Maklum, rumah dengan atap ijuk yang diambil dari pohon aren sudah sangat susah dijumpai. Tapi dahulu, di desa-desa sekitar termasuk Gunung Wuled masih banyak rumah beratap ijuk.

Rumah jaman sekarang, jika tidak beratap genteng umumnya beratap seng. Tapi jika ingin melihat rumah beratap ijuk nan asri, datanglah ke Petilasan Si Onje - Gunung Wuled. Di sana, terdapat rumah peristirahatan bagi peziarah beratap ijuk yang sudah berlumut.

Itu pula yang konon menjadi alasan kenapa warga Gunung Wuled dilarang menggunakan ijuk sebagai atap rumahnya. Atap ijuk hanya boleh digunakan di Petilasan Si Onje, tempat peristirahatan terakhir Syeh Rubiah Kembang.

3. Gelung Parerentang

Nah yang ini, pasti tidak asing bagi perempuan Jawa. Tapi belum tentu semua perempuan Jawa pernah memakai penghias rambut ini. Gelungan atau mengikat rambut bagi orang Jawa menjadi sangat lumrah pada jaman dahulu. Untuk jaman sekarang, gelung masih digunakan tapi hanya untuk acara-acara khusus seperti peringatan Hari Kartini, acara pernikahan, lengger dan sinden.

Penggunaan gelung di Desa Gunung Wuled tidak dilarang. Yang dilarang adalah gelung model parerentang. Gelung parerentang adalah gelung dengan menyisakan sebagian kecil rambut terurai ke belakang. Konon, Syeh Rubiyah Kembang selalu menggunakan gelung model parerentang. Jadi warga Gunung Wuled dilarang meniru model gelung itu.
****
Semua pantangan atau larangan itu pasti memiliki makna dan maksud tertentu. Untuk mengetahui kedalaman makna dan maksud yang sebenarnya, mau tidak mau kita harus melihat realitas budaya dan kehidupan masyarakat Desa Gunung Wuled pada jaman dahulu. Jadi tidak ada salahnya menggali cerita tutur dari para orang tua dan kakek-nenek kita. Tentu jauh lebih bijak jika kita bisa mengenali budaya kita yang sebenarnya.




Artikel terkait:

4 comments:

Anonymous said...

rumh bratap ijuk spt'nya prnh q liat d sbuah ldang,, nmun mmang ltak'ya ckup jauh dri pmkmn..

Jemari G-Wul said...

Iya satu dua masih ada, tp skrg sudah sgt jarang. Skrg yg pake atap ijuk justru di kota sprt rumah makan, tmpt pemcngn dll...

Anonymous said...

Klw ga slh denger jg katanya di Desa Karang Nangka bagian dr G-Wul ada pantangan GA BOLEH JUALAN NASI / RAMES...
Entahlah...

Dwi Andri said...

sejarah desa gunungwuled tidak boleh ada pertunjukan wayang bagaimana ya?

Post a Comment

Budayakan meninggalkan jejak di blog yang dikunjungi dengan memberikan komentar, terimakasih....

 
Desain diolah oleh Sofyan NH | Bloggerized by Ideaku Online | Gunungwuled