Tuesday, 23 June 2015

Ini Lho! Sekolah Zaman Hindia Belanda di Purbalingga

Di zaman penjajahan Belanda, sekolah modern sudah berdiri di Purbalingga. Kendati begitu, lembaga pendidikan ini masih elitis dan hanya menerima murid keturunan Belanda dan anak para bangsawan Jawa. Sedangkan rakyat jelata dibiarkan bodoh dan tak terdidik. Maklum, Belanda tak ingin pribumi menjadi cerdas dan memberontak demi melanggengkan kekuasaan kolonial.

Tak jelas, kapan sekolah modern berdiri pertama kali di Purbalingga. Penelusuran yang dilakukan oleh Jemari Gunungwuled juga belum menemukan titik terang. Untuk membuka tabir sejarah sekolah modern di Purbalingga, kami hanya mengandalkan dokumen dari Lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia atau Koninklijk Institute voor de Taal-, Land- en Vokenkunde (KITLV) yang berpusat di Leiden Belanda.

Dua buah potret tua dari perpustakaan yang menyimpan dokumen-dokumen Hindia Belanda ini diberi keterangan Poerbolinggo. Perlu diketahui sejumlah dokumen foto KITLV menyebut nama Purbalingga dengan Poerbolinggo in Midden-Java. Label pada dua potret tua itu menyebut angka tahun 1909 dan 1932.

Sejarah lahirnya sekolah modern di Purbalingga tak lepas dari Politik Etis. Politik Balas Budi pada jaman Hindia Belanda ini menjadi awal lahirnya sekolah-sekolah modern di Indonesia. Politik etis merupakan respons Ratu Wilhelmina atas kritik terhadap kebijakan tanam paksa di Hindia Belanda.

Ratu Wilhelmina yang bernama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau memimpin Kerajaan Belanda sejak 1890 - 1948. Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang belum lama naik tahta menegaskan, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda.

Sang Ratu mewujudkan gagasannya itu dalam program Trias Politika yang meliputi:
1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian
2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi
3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan

Kebijakan Ratu Wilhelmina ini dipengaruhi oleh kaum Etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) yang membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang.

Berikut ini potret tua yang menggambarkan sekolah modern di jaman Hindia Belanda:

Potret ini menggambarkan keceriaan seorang guru perempuan Eropa dengan para muridnya di Purbalingga. Dokumen KITLV ini berjudul Vermoedelijk een Europese lerares met haar leerlingen te Poerbolinggo. Juru foto mengabadikan momentum ini pada tahun 1932.

www.jemarigunungwuled.or.id

Potret anak kecil Eropa. Keterangan foto menyebutkan anak laki-laki di sebelah kiri bernama Jitze dan sebelah kanan bernama Leny (satu anak lainnya tidak disebut), dengan babu mereka di sebuah taman di Wonosobo. Kendati judul foto ada keterangan Wonosobo, tapi di keterangan foto lainnya menyebut sebuah taman di Purbalingga. Juru foto membidik gambar menakjubkan ini pada tahun 1909. Dokumen KITLV berjudul: Euopese kinderen, de jongen links genaamd Jitze en het meisje geheel rechts Leny, met hun baboe in een park te Wonosobo.

www.jemarigunungwuled.or.id

Penulis: S.N. Hidayat


Artikel terkait:

1 comments:

Valena Michelle said...
This comment has been removed by a blog administrator.

Post a Comment

Budayakan meninggalkan jejak di blog yang dikunjungi dengan memberikan komentar, terimakasih....

 
Desain diolah oleh Sofyan NH | Bloggerized by Ideaku Online | Gunungwuled